Home » Blog » KEMANA PERGINYA SI BELANG?

KEMANA PERGINYA SI BELANG?

Ayo Nge-Blog

Berisi opini, eksperimen flash, My Student, E-Learning, Persiapan UN 2009, dll. File-file FLA, Software, dan soal-soal gratis dapat didownload di halaman DOWNLOAD. Semoga bermanfaat....

Anda Pengunjung ke-

  • 87,491

CALENDAR

July 2010
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Oleh: Ismuji

Sore itu Si Hitam dan si Putih, dua ekor anak kucing, duduk di pinggir pagar rumah kosong di sebuah kompleks perumahan. Mata mereka hampir tidak berkedip menatap perempatan jalan di depannya. Wajah mereka tampak gelisah menunggu sesuatu.

“Kemana perginya si Belang, ya?” guman si Hitam.

“Jangan-jangan ia pergi ke rumah nenek Nia lagi. Ah, dasar si Belang. Selalu saja nakal. Semoga tidak terjadi apa-apa padanya,” sahut si Putih sambil merendahkan badannya rata tanah. Mereka berdua tetap menanti saudaranya, si Belang, walau pun gelap mulai menyelimuti kompleks perumahan.

Si Hitam, si Putih, dan si Belang adalah tiga anak kucing kakak beradik. Sewaktu kecil mereka telah dipisahkan dari ibunya. Mereka diletakkan di dekat rumah kosong itu oleh orang yang memelihara induknya. Sepanjang malam itu mereka bertiga berteriak memanggil induknya. Mereka menangis menahan lapar dan haus. Mereka berpelukan erat untuk mengusir rasa takut dan dingin.

Hari-hari berikutnya mereka isi bersama-sama, bermain dan mencari makan. Hasil buruan yang mereka peroleh dibagi dan dimakan bersama. Si Hitam sangat pandai berburu belalang dan burung. Si Putih sangat mahir menangkap tikus. Sedangkan si Belang adalah pelari yang hebat, namun ia lebih banyak bermalas-malasan.

Si Belang lebih suka duduk berjam-jam di depan dapur orang. Bila orang tersebut lengah, segera ia mengambil sepotong ikan atau daging goreng. Tidak jarang ia dikejar dan dilempar orang dikompleks perumahan itu karena mencuri. Tetapi ia tidak jera. Berkali-kali si Hitam dan si Putih menasehati. Tetapi ia tetap mengulangi. Ia tidak mengerti bahwa prilakunya merugikan orang. Ia tidak sadar bahwa perbuatannya membuat was-was dan sedih dua saudaranya, seperti saat itu.

Setelah sekian lama si Hitam dan si Putih menunggu, tiba-tiba muncul bayangan dari perempatan jalan.

“Meong… me … me … me … meong …!” nyanyi bayangan itu sambil sesekali melompat kecil.

“Itu dia Belang datang!” teriak si Putih. Ia bangkit dan menyongsong saudaranya, si Belang. Dengan riang mereka menyambut kedatangan si Belang.

“Kau kemana saja, Belang? Kami mengkhawatirkanmu!” ujar si Hitam sambil memeluk si Belang. Mereka bertiga menuju teras samping untuk makan malam. Si Hitam segera membagi hasil buruan si Putih.

“Aku sudah kenyang,” kata si Belang sambil menjilati kedua kaki depannya. “Kalian saja yang makan. Sepotong ikan bandeng yang gemuk sudah memenuhi perutku. Ah, lezat dan gurih sekali ikan tadi!”

Si Belang merebahkan badannya sambil menjilati dan mengelus-elus perutnya. Si Hitam terdiam menatap si Belang. Si Putih tampak penasaran mendengar cerita si Belang.

“Kau diberi sepotong ikan oleh nenek Nia, ya Belang?” tanya si Putih.

“Diberi? Ha… ha… ha…!” tawa si Belang sambil berguling-guling di lantai teras. Si Hitam dan si Putih makin tidak mengerti. “Nenek pelit itu tidak mungkin mau memberiku sepotong ikan. Jangankan sepotong ikan, mendengar sapaanku saja langsung ‘hus… hus… pergi…’ jawaban nenek itu.”

“Lalu sepotong ikan bandeng gemuk yang lezat tadi dari mana?” tanya si Hitam dan si Putih hampir bersamaan. Si Belang bangkit dari rebahnya dan duduk.

“Begini ceritanya. Sejak tadi siang aku sudah melintas di dapur nenek Nia. Pintu dan jendela dapur ditutup. Mungkin nenek tua itu masih tidur siang. Aku menunggu di bawah pohon ketapang samping rumahnya. Setelah beberapa lama, akhirnya pintu dan jendela dapur nenek tua itu dibuka. Selang kemudian terdengar bunyi gorengan. Segera aroma yang harum dan lezat tersebar kemana-mana!” cerita si Belang dengan semangat sambil menggerak-gerakkan kaki depannya.

“Pasti aroma ikan bandeng gemuk yang kau maksud, kan?” tanya si Hitam.

“Yups. Lalu aku mencoba mendekat ke dapur dan menyapa nenek tua itu ‘meong…’. Nenek itu malah mengusirku dengan sapu lidinya. Aku berlari menuju pohon ketapang lagi. Aku duduk kembali sambil menunggu saat yang tepat. Menjelang sore, nenek itu menyapu halaman depan rumahnya. Itulah saat yang tepat bagiku untuk masuk dapur dan mengambil sepotong ikan bandeng. Namun saat membuka tutup piring, aku kurang hati-hati. Jatuhlah piring itu dan nenek tua itu mendengarnya. Segera ku ambil sepotong ikan yang paling gemuk dan ku berlari!”

“Terus nenek itu mengejarmu, ya?” tanya si Putih.

“Ya, iyalah! Nenek tua itu mengejarku dengan sapu lidinya. Tetapi ia tidak mampu mengejar kecepatan berlariku. Setelah jauh, baru aku berhenti dan menikmati ikan bandeng gemuk yang kuceritakan tadi. Karena itulah aku terlambat pulang,” jelas si Belang.

“Hah? Jadi Belang mencuri lagi, ya?” geram si Hitam.

“Sungguh sia-sia kami menunggumu, Belang?” tambah si Putih.

Si Belang merebahkan badannya seolah tidak mendengar kemarahan saudara-saudaranya.

“Selapar apa pun kita tidak boleh mencuri, Belang! Itu tidak baik. Kita bisa celaka karenanya. Kita bisa dibenci oleh Tuhan. Kita bisa diusir oleh orang di kompleks ini. Lalu kita akan tinggal di mana?” si Hitam mencoba menyadarkan si Belang.

“Lagi pula selezat apa pun ikan bandeng gemuk curianmu itu, masih lebih lezat tikus hasil buruanku ini!” tambah si Putih sambil memakan buruannya walau nafsu makannya hilang.

Mendengar nasehat kedua saudaranya, si Belang malah pura-pura tidur. Si Hitam dan si Putih hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan saudaranya yang berbulu belang tiga itu. “Ah, dasar si Belang!” gerutu si Hitam dan si Putih sambil berlalu menuju teras depan rumah kosong itu. Mereka merebahkan badannya. Malam semakin kelam menyelimuti kompleks perumahan itu dan ketiga anak kucing itu mendengkur dengan pulasnya.

Keesokan harinya, si Belang pergi lagi ke arah perempatan jalan dan belok kanan. Pasti ke rumah nenek Nia lagi, tebak si Putih. Si Hitam hanya menghela nafas. Mereka tidak lagi menunggu seperti kemarin. Setelah makan malam dan bercengkerama, mereka berdua tidur di lantai teras depan.

Saat terbangun di pagi harinya, mereka tidak menjumpai si Belang.

“Kemana perginya si Belang, ya?” guman si Putih.

“Entahlah, Putih. Belang sulit sekali diberi nasehat. Tetapi kita tidak boleh berhenti untuk meluruskan prilakunya. Seburuk apa pun, ia tetap saudara kita. Aku yakin suatu saat ia akan sadar,” jawab si Hitam dengan mata berkaca-kaca.

Sudah dua hari si Belang tidak pulang. Si Hitam dan si Putih semakin cemas.

“Kita harus mencarinya, Putih!” ajak si Hitam kepada si Putih. Dua anak kucing ini kemudian menyusuri jalan-jalan di kompleks perumahan itu. Secara bergantian mereka memanggil si Belang.

“Meoooong… meoooong… meong!”

Hingga serak suara mereka, tetapi belum ada sahutan dari si Belang. Seharian penuh mereka berkeliling mencari si Belang. Jangankan batang hidungnya, jejaknya saja seperti ditelan bumi.

Hari berikutnya pencarian si Belang mereka teruskan. Mereka menyusuri lagi jalan-jalan di kompleks itu. Hingga senja mereka berkeliling kompleks, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan si Belang. Wajah mereka tampak putus asa. Pikiran buruk pun mulai menghantui si Hitam dan si Putih. Jangan-jangan si Belang pergi jauh dan tidak mau kembali karena selalu dinasehati. Mungkin si Belang dimangsa binatang buas yang ada di belukar di samping kompleks perumahan itu. Atau jangan-jangan si Belang dikurung oleh nenek Nia. “Rumah nenek Nia!” seru mereka seakan tersadar bahwa rumah itu belum mereka lewati untuk mencari kemana perginya si Belang.

Bergegas mereka menuju rumah nenek Nia yang ada di ujung gang. Setelah sampai di depan pintu pagar rumah nenek Nia, mereka kembali memanggil si Belang.

“Meoooong… meoooong… meong!” seru mereka bergantian memanggil si Belang.

Mereka mengitari halaman dan pekarangan rumah itu sambil terus memanggil si Belang. Tiba-tiba ada sahutan lirih dan rintihan dari arah pohon ketapang. Segera mereka berlari menuju arah rintihan itu. Setelah sampai di bawah pohon ketapang, mereka terkejut bukan kepalang.

“Ya, Tuhan…! Belang, kenapa kamu? Siapa yang menyakitimu? Mana yang sakit? Mana yang luka?” seru si Hitam dan si Putih. Di hadapan mereka tergeletak si Belang dengan air mata meleleh, bulunya basah kuyub, badan penuh luka, kaki belakang berdarah, dan nafas yang tersengal-sengal.

“Mm … ee … oo … ng!” rintih si Belang kesakitan.

Menyaksikan keadaan saudaranya yang demikian itu, si Hitam dan si Putih tidak mampu menahan air matanya. Seburuk apa pun tingkah laku si Belang, ia tetap saudaranya. Mereka merangkul si Belang erat-erat. Dengan hati-hati, si Hitam menggigit tengkuk si Belang dan mengangkatnya menuju rumah kosong tempat tinggal mereka.

Si Hitam dan si Putih merawat si Belang dengan penuh kasih sayang. Si Hitam rajin menjilati luka pada badan dan kaki belakang si Belang untuk mengobatinya. Si Putih menyuapkan potongan daging hasil buruannya ke mulut si Belang. Mereka tidur di sampingnya untuk memberikan kehangatan. Setelah dua hari, keadaan si Belang berangsur baik.

Setelah tiga hari, si Belang sudah bisa duduk dan berbicara. Si Belang menceritakan apa yang ia alami. Waktu itu ia pergi ke rumah nenek Nia dan ingin mencuri lagi ikan seperti hari sebelumnya. Ternyata nenek Nia sedang tidak ada di rumah karena hingga senja pintu dan jendela dapurnya tertutup. Didorong rasa lapar, ia menuju rumah yang berada beberapa blok dari rumah nenek Nia. Kebetulan jendela dapur rumah itu terbuka. Si Belang masuk dan mencari-cari makanan yang bisa dicurinya. Sial bagi si Belang, ia menyenggol jatuh tutup panci. Bunyi yang gaduh membuat orang yang punya rumah berteriak marah dan mengejar si Belang. Kontan si Belang meloncat ke arah jendela dan menerobos keluar. Malangnya, orang tersebut juga memelihara anjing yang besar. Anjing itu mengejar si Belang. Betapa pun cepatnya si Belang berlari, anjing besar itu memiliki loncatan yang jauh. Setelah beberapa lama, anjing besar itu mampu mengejar dan menggigit kaki belakang si Belang. Sempat pula kaki depan anjing itu mencakar tubuh si Belang.

Untung bagi si Belang, saat itu di hadapannya terbentang danau buatan yang digunakan untuk menampung air limbah. Tanpa pikir panjang, si Belang terjun ke danau itu. Ia tidak perduli perih yang dirasakannya. Dengan bersusah payah ia  akhirnya sampai di ujung danau buatan itu. Kemudian ia tidak ingat apa-apa. Setelah sadar, ia berjalan tertatih untuk pulang. Karena tidak tahan dengan sakit dan lukanya, akhirnya ia tergeletak di bawah pohon ketapang di samping rumah nenek Nia.

“Maafkan aku. Aku menyesal karena tidak menuruti nasehat kalian. Aku berjanji untuk tidak mencuri lagi. Aku berjanji…!” sesal si Belang mengakhiri ceritanya. Si Hitam dan si Putih tersenyum gembira dan memaafkan si Belang. Mereka bertiga berpelukan erat dan menangis bahagia. Sejak itu pula si Belang belajar menangkap belalang atau tikus pada si Hitam dan si Putih untuk keperluan hidupnya sehari-hari.

===== SELESAI ====


1 Comment

  1. menyongsong datangnya bulan Romadhon, mari kita mempersiapkan diri untuk hati yang lebih bersih dan rasa saling menghormati. mohon maaf kalau komentar ini sekedar menyapa, tidak sesuai dengan isi postingan 22:07

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: