Home » Ramadhan 1430H » Cita-cita Seorang Tukang Becak

Cita-cita Seorang Tukang Becak

Ayo Nge-Blog

Berisi opini, eksperimen flash, My Student, E-Learning, Persiapan UN 2009, dll. File-file FLA, Software, dan soal-soal gratis dapat didownload di halaman DOWNLOAD. Semoga bermanfaat....

Anda Pengunjung ke-

  • 87,491

CALENDAR

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kisah ini kudengar dari salah seorang uztad sewaktu memberikan kuliah subuh di masjid “Fathul Khoir”. Kukisahkan kembali untuk Anda sebagai spirit bahwa keteguhan pengharapan kepada Allah selalu terkabul walau mungkin dengan cara yang tidak terduga.

Tersebutlah seorang tukang becak paruh baya di suatu kota J2. Ia seorang sederhana yang sangat taat beragama. Keinginan untuk menyempurnakan keislamannya dengan berhaji sangat tinggi. Ia sadar bahwa untuk bisa ke Mekkah/Madinah memerlukan dana puluhan juta. Tetapi ia sangat yakin akan Kemurahan dan Kerahiman Allah SWT. Setiap pagi, saat pergi menarik becak, ia selalu menggumamkan, “Ya Allah, melalui becak ini sampaikan aku ke Mekkah dan Madinah untuk menjadi tamuMu, Ya Rabb!”

Istri dan teman-teman sesama tukang becak menganggap cita-citanya adalah ibarat mimpi di siang bolong. Bahkan beberapa teman seprofesinya menjulukinya “wong gendeng”. Ia tidak menggubris keraguan orang-orang di sekitarnya. Ia tetap yakin bahwa Allah akan mengabulkan pengharapannya. Bahkan tidak main-main si tukang becak ini. Khusus setiap hari Jumat, ia gratiskan semua yang menumpang becaknya. “Ya Allah, jadikan yang kulakukan ini sebagai sedekahku di jalanMu. Dan Engkau berjanji akan membalas orang yang bersedakah dengan balasan yang lebih baik”, doanya setiap membawa penumpang di hari Jumat itu.

 Suatu Jumat, ia membawa dua penumpang suami istri yang sudah tua. Dari pembicaraan mereka selama perjalanan, ia meyimpulkan bahwa si bapak sudah pensiun dan ingin menikmati masa tuanya di luar kota J1 dan akan mencari tempat tinggal di pinggiran kota J2. Mereka minta diantarkan ke sebuah penginapan mewah di tengah kota J2. Sesampai di sana, si bapak menyodorkan uang Rp30.000 kepadanya.
“Maaf, Pak. Hari ini saya tidak memungut bayaran. Terima kasih”, jelasnya.
Mereka terbengong, ah kurang banyak kali ye, dalam hati si bapak. Lalu ia menyodorkan Rp100.000.
“Kalau begitu, yang ini… bagaimana?” sodor si bapak dan dijawab dengan seyuman.
“Ndak, Pak. Hari ini adalah hari sodakoh saya pak. Jadi semua yang menumpang becak ini gratis-tis.”
“Lho, memangnya saya ini kelihatan pantas mendapat sedekah  ya?”, tanya si bapak mulai meninggi.
“Lha, memangnya saya yang seperti ini tidak pantas untuk bersedekah?” balasnya sambil berlalu. Mereka bengong. Baru satu hari di kota ini dan bertemu dengan tukang becak seperti ini.

Karena penasaran, pasangan tua ini mencari informasi tentang tukang becak aneh itu. Akhirnya diperolehlah sebuah alamat. Mereka bertamu di sebuah rumah yang sungguh sangat sederhana. Tukang becak dan istrinya menyambut mereka dengan ramah. Kemarahan kemarin telah dilupakannya.
“Kami simpati dengan Bapak, makanya kami kemari untuk menyerahkan sedikit uang untuk keluarga ini”, kata si bapak sambil menyodorkan amplop berisi Rp500.000
“Saya iklas lho pak kemarin itu. Jadi tolong jangan rusak keiklasan saya ini”, kata si tukang becak menolak halus amplop yang disodorkan itu.
Sisa intelektualitas si bapak muncul sebagai rasa ingin tahu.
“Apa sih motifnya pak, kok pake gratis-gratisan kalau hari Jumat?”
Dengan tersipu si tukang becak melirik istrinya.
“Ya, saya berharap melalui sodakoh ini, gusti Allah memudahkan langkah saya menuju tanah suci…”
“Oh…” gumam pasangan tua itu. Setelah beberapa lama mendengar cerita istri si tukang becak, betapa besar niat suaminya untuk berangkat haji, akhirnya pasangan tua itu kembali ke penginapan.

Sepanjang jalan sampai penginapan mereka berdiskusi tentang si tukang becak dan cita-citanya. Mereka jadi malu, dengan kekayaan yang melimpah dan usia yang hampir udzur kok belum terpikirkan untuk menunaikan ibadah haji. Akhirnya mereka sepakat untuk berangkat haji tahun ini. Bahkan mereka menyepakati untuk membayar 3 ONH.

Esoknya mereka kembali ke rumah si tukang becak. Dan menyampaikan maksudnya.
“Pak, kuatnya keinginan sampean untuk pergi ke Mekkah membuat kami malu dan tersadar. Oleh karena itu mari bersama kami berangkat tahun ini”, jelas si bapak dan diiyakan sama istrinya sambil menyodorkan bukti pelunasan ONH. Si tukang becak hanya bisa terbengong hingga tak terasa dari ujung matanya mengalir air mata. Ia pergi ke balik ruang tamu yang sempit itu. Ia ingin bersujud syukur dan istighfar karena pernah terlintas bahwa Allah dan karunianya itu tidak dekat. Ternyata sedekat urat nadinya.

(Enrich by Ism.)


5 Comments

  1. Aisyah says:

    Keren pak critax ustadz sapa yg crita?

  2. Aisyah says:

    Pak critax ditambah lg donkz klo bs yg buanyak

  3. shezars says:

    Sangat bermanfaat, kebesaran Allah SWT

  4. zai Zakaria says:

    Sangat bermanfaat, inspiratif dan senang bisa membaca tulisan bp. Is

  5. ismuji says:

    Aisyah, Shezars, dan Ibu Zai: makasih comment-nya. Hanya mengisahkan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: