Home » Ramadhan 1430H » Berbagi dari yang Terdekat

Berbagi dari yang Terdekat

Ayo Nge-Blog

Berisi opini, eksperimen flash, My Student, E-Learning, Persiapan UN 2009, dll. File-file FLA, Software, dan soal-soal gratis dapat didownload di halaman DOWNLOAD. Semoga bermanfaat....

Anda Pengunjung ke-

  • 87,491

CALENDAR

August 2009
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kadang benar peribahasa “Kuman di seberang lautan tampak, namun gajah di pelupuk mata tidak tampak” dapat terjadi pada diri kita. Seperti pada kisah berikut yang terjadi saat bangsa ini dilanda krisis.

Tersebutlah seorang pedagang yang sholeh, di mana tokonya selalu mengalir rezeki yang melimpah di tengah krisis yang melanda negeri. Hal ini tidak membuat pedagang itu beserta keluarganya menjadi sombong. Rezeki yang melimpah mereka syukuri dengan tetap berderma terhadap kaum yang kurang mampu. Daerah-daerah kumuh dan miskin sering menjadi sasaran keluarga ini untuk berbagi walau pun menempuh jarak yang jauh.

Suatu sore hari, di bulan Ramadhan, istri pedagang telah menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarganya di lantai bawah. Setelah siap, mereka biasanya berjalan-jalan atau bersantai di pekarangannya sambil menunggu saat berbuka tiba. Dan saat adzan berkumandang, keluarga ini segera menuju meja makan. Namun semuanya terperanjat. Nasi dan lauk yang tadi dipersiapkan HILANG …!

Ditempat lain, seorang bapak dengan dua anaknya yang masih kecil telah mengitari meja usang menunggu sang ibu menyajikan hidangan untuk berbuka. Setelah sekian lama menunggu akhirnya sang ibu keluar dari dapur dengan satu tempat besar nasi dan lauk yang sangat lezat. Sang Bapak dan anak-anaknya terperanjat.
“Alhamdulillah, kita dapat rezeki ya Bu ?” tanya anaknya yang besar dan dijawab dengan senyum getir ibunya.
“Ayo kita makan saja, ya?”
“Ibu dapat rezeki dari mana?” tanya anaknya yang bungsu.
Sepontan ibunya berhenti menghidangkan makanan itu dan memandang suaminya. Suaminya hanya mengangguk. Segera sang ibu mengemas kembali makanan yang hendak dihidangkan dan menuju keluar rumah setengah berlari di bawah tatapan tak mengerti anaknya.

Di rumah pedagang, kebingunan atas hilangnya nasi dan lauknya dipecahkan oleh sebuah salam.
“Assalamu alaikum…”
“Wa alaikum salam…”,  jawab istri pedagang sambil menuju pintu dan membukanya. Di hadapannya seorang ibu lusuh berurai air mata.
“Bu, maafkan saya. Saya tadi mencuri nasi dan lauk di sini. Tetapi ini saya kembalikan lagi. Sekali lagi maafkan saya, ya Bu…” terbata-bata ibu tadi menyampaikan maksudnya. Sementara istri pedagang masih dalam kebingungan. Melihat sikap ini, ibu lusuh menambahkan penjelasannya dengan sesekali menghapus air matanya.
“Keluarga kami sudah tiga hari ini berbuka dengan singkong rebus. Entah setan mana yang menggoda saya untuk menyenangkan hati mereka dengan nasi dan lauk yang enak saat berbuka walau mencuri dari rumah ini. Namun Alhamdulillah, Allah menegur saya melalui anak bungsu saya. Mohon maafkan saya dan permisi. Assalamu alaikum…” sambil meletakkan nasi dan lauk itu di meja teras.

Setelah tersadar dari kebingungan, istri pedagang memanggil kembali ibu tadi yang sudah hampir sampai pagar.
“Ibu tinggal di mana?” tanya istri pedagang sambil berjalan mendekatinya.
“Saya tinggal dibelakang rumah ibu, di sebelah pagar itu…”
Tiba-tiba istri pedagang itu merangkul ibu tadi dan menangis. Ia merasa bersalah sekali, betapa orang yang tepat di belakang rumahnya, yang mungkin setiap hari terganggu dengan aliran air limbah dari rumahnya, yang setiap hari tidak bisa terkena sinar matahari karena terhalang rumah tingkatnya, menderita kelaparan hingga hanya untuk sebakul nasi mereka harus mencuri. Kemana hati ini yang tidak peduli terhadap penderitaan yang begitu dekat dengannya. Dan hatinya makin teiris-iris saat ingat hadist Rasulullah, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah memuliakan tetangganya’. Ah …

Sejak malam itulah keluarga miskin ini dapat berbuka dengan nasi. Sang bapak yang sudah berbulan-bulan tidak mendapat pekerjaan setelah peristiwa PHK di tempatnya kerjanya, sekarang menjadi sopir kepercayaan sang pedagang. Dan sang ibu setiap pagi tampak sibuk di rumah sang pedagang untuk membantu istrinya masak, mencuci, dan beres-beres rumah.

Ah, sesungguhnya berbagi itu indah, ya…

Selamat berpuasa…

(Enrich by Ism.)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: