Posts filed under 'Ramadhan 1430H'
Cita-cita Seorang Tukang Becak
Kisah ini kudengar dari salah seorang uztad sewaktu memberikan kuliah subuh di masjid “Fathul Khoir”. Kukisahkan kembali untuk Anda sebagai spirit bahwa keteguhan pengharapan kepada Allah selalu terkabul walau mungkin dengan cara yang tidak terduga.
Tersebutlah seorang tukang becak paruh baya di suatu kota J2. Ia seorang sederhana yang sangat taat beragama. Keinginan untuk menyempurnakan keislamannya dengan berhaji sangat tinggi. Ia sadar bahwa untuk bisa ke Mekkah/Madinah memerlukan dana puluhan juta. Tetapi ia sangat yakin akan Kemurahan dan Kerahiman Allah SWT. Setiap pagi, saat pergi menarik becak, ia selalu menggumamkan, “Ya Allah, melalui becak ini sampaikan aku ke Mekkah dan Madinah untuk menjadi tamuMu, Ya Rabb!”
Istri dan teman-teman sesama tukang becak menganggap cita-citanya adalah ibarat mimpi di siang bolong. Bahkan beberapa teman seprofesinya menjulukinya “wong gendeng”. Ia tidak menggubris keraguan orang-orang di sekitarnya. Ia tetap yakin bahwa Allah akan mengabulkan pengharapannya. Bahkan tidak main-main si tukang becak ini. Khusus setiap hari Jumat, ia gratiskan semua yang menumpang becaknya. “Ya Allah, jadikan yang kulakukan ini sebagai sedekahku di jalanMu. Dan Engkau berjanji akan membalas orang yang bersedakah dengan balasan yang lebih baik”, doanya setiap membawa penumpang di hari Jumat itu.
Suatu Jumat, ia membawa dua penumpang suami istri yang sudah tua. Dari pembicaraan mereka selama perjalanan, ia meyimpulkan bahwa si bapak sudah pensiun dan ingin menikmati masa tuanya di luar kota J1 dan akan mencari tempat tinggal di pinggiran kota J2. Mereka minta diantarkan ke sebuah penginapan mewah di tengah kota J2. Sesampai di sana, si bapak menyodorkan uang Rp30.000 kepadanya.
“Maaf, Pak. Hari ini saya tidak memungut bayaran. Terima kasih”, jelasnya.
Mereka terbengong, ah kurang banyak kali ye, dalam hati si bapak. Lalu ia menyodorkan Rp100.000.
“Kalau begitu, yang ini… bagaimana?” sodor si bapak dan dijawab dengan seyuman.
“Ndak, Pak. Hari ini adalah hari sodakoh saya pak. Jadi semua yang menumpang becak ini gratis-tis.”
“Lho, memangnya saya ini kelihatan pantas mendapat sedekah ya?”, tanya si bapak mulai meninggi.
“Lha, memangnya saya yang seperti ini tidak pantas untuk bersedekah?” balasnya sambil berlalu. Mereka bengong. Baru satu hari di kota ini dan bertemu dengan tukang becak seperti ini.
Karena penasaran, pasangan tua ini mencari informasi tentang tukang becak aneh itu. Akhirnya diperolehlah sebuah alamat. Mereka bertamu di sebuah rumah yang sungguh sangat sederhana. Tukang becak dan istrinya menyambut mereka dengan ramah. Kemarahan kemarin telah dilupakannya.
“Kami simpati dengan Bapak, makanya kami kemari untuk menyerahkan sedikit uang untuk keluarga ini”, kata si bapak sambil menyodorkan amplop berisi Rp500.000
“Saya iklas lho pak kemarin itu. Jadi tolong jangan rusak keiklasan saya ini”, kata si tukang becak menolak halus amplop yang disodorkan itu.
Sisa intelektualitas si bapak muncul sebagai rasa ingin tahu.
“Apa sih motifnya pak, kok pake gratis-gratisan kalau hari Jumat?”
Dengan tersipu si tukang becak melirik istrinya.
“Ya, saya berharap melalui sodakoh ini, gusti Allah memudahkan langkah saya menuju tanah suci…”
“Oh…” gumam pasangan tua itu. Setelah beberapa lama mendengar cerita istri si tukang becak, betapa besar niat suaminya untuk berangkat haji, akhirnya pasangan tua itu kembali ke penginapan.
Sepanjang jalan sampai penginapan mereka berdiskusi tentang si tukang becak dan cita-citanya. Mereka jadi malu, dengan kekayaan yang melimpah dan usia yang hampir udzur kok belum terpikirkan untuk menunaikan ibadah haji. Akhirnya mereka sepakat untuk berangkat haji tahun ini. Bahkan mereka menyepakati untuk membayar 3 ONH.
Esoknya mereka kembali ke rumah si tukang becak. Dan menyampaikan maksudnya.
“Pak, kuatnya keinginan sampean untuk pergi ke Mekkah membuat kami malu dan tersadar. Oleh karena itu mari bersama kami berangkat tahun ini”, jelas si bapak dan diiyakan sama istrinya sambil menyodorkan bukti pelunasan ONH. Si tukang becak hanya bisa terbengong hingga tak terasa dari ujung matanya mengalir air mata. Ia pergi ke balik ruang tamu yang sempit itu. Ia ingin bersujud syukur dan istighfar karena pernah terlintas bahwa Allah dan karunianya itu tidak dekat. Ternyata sedekat urat nadinya.
(Enrich by Ism.)
2 comments 4 September 2009
Sengketa Dua Orang Sholeh
Sahabat, bagaimana kalau ada dua orang sholeh bersengketa? Ikuti kisah ini….
Nun di sana…
Tersebutlah seorang bernama Fulan A. Ia ingin mencari sebuah lahan untuk dijadikan tempat budidaya ikan air tawar atau tambak. Bertemulah dengan Fulan B yang ingin menjual tanah di sebuah lokasi. Fulan B mendeskripsikan tentang lahan yang akan dijual dan estimasi harga yang diminta. Kemudian mereka berdua menuju lahan yang dimaksud dan Fulan A merasa memang kondisi lahan sesuai dengan deskripsi yang disampaikan Fulan B dan sangat cocok dengan niatannya semula. Setelah terjadi kesepakatan harga, akhirnya mereka mengadakan transaksi jual beli.
“Saya beli tanah anda pak Fulan B dengan harga 70 juta”, ujar Fulan A.
“Saya jual tanah ini pada Anda pak Fulan A, semoga berkah,” balas Fulan B dalam genggaman salaman yang erat.
Fulan A segera melaksanakan niatan semula, membuat tambak. Beberapa orang ia pekerjakan untuk menggali petak-petak untuk kolam. Di suatu hari, cangkul dari salah seorang pekerjanya membentur sebuah kotak. Bersama pekerjanya, Fulan A membersihkan dan membukanya. Masya Allah, isinya adalah puluhan perhiasan emas bahkan beberapa bertahtakan intan. Semua yang hadir di situ terbelalak melihat perhiasan-perhiasan yang nilainya mungkin milyaran.
“Allah betul-betul memberikan karuniaNya yang banyak kepada Anda, Tuan”, kata pekerjanya.
Fulan A tercenung sejenak, kemudian ia menutup kembali kotak itu.
“Saya harus menyerahkan ini kepada pak Fulan B!”
Kembali para pekerjanya terbelalak, tidak percaya, masih ada orang yang jujur dan sholeh seperti majikannya.
Di rumah Fulan B, Fulan A menyerahkan kotak yang ditemukan dan menceritakan isinya.
“Ini adalah milik Anda, pak Fulan B. Tolong di terima.”
“Tidak demikian, pak Fulan A. Kotak dan isinya ini sudah menjadi milik Anda. Anda telah membeli tanah saya, jadi apa yang ada di dalamnya adalah menjadi hak Anda juga.”
“Menurut saya bukan seperti itu. Saya hanyalah membeli tanah itu bukan termasuk kotak ini. Tolong terima hak Anda ini, saya takut apabila benda yang bukan hak saya ini menyebabkan saya tertolak dari syurga.”
“Sama pak. Menurut saya ini bukan lagi menjadi hak saya. Tanah dan isinya telah saya jual pada Anda. Apabila saya menerima benda ini, saya takut siksa Allah.”
Lama sekali mereka berdebat tentang kepemilikan kotak senilai milyaran itu. Masing-masing merasa bukan haknya. Di tengah kelelahan mereka beradu argumentasi, akhirnya mereka menyepakati mencari seorang ‘alim untuk mencari penyelesaian dari sengketa ini.
Setelah bertemu dengan si orang ‘alim, si orang ‘alim hanya tersenyum bahkan hampir tertawa mendengar permasalahan mereka.
“Hai dua orang yang sholeh!” kata si orang ‘alim, “ini masalah yang sangat sederhana sebenarnya!”
Fulan A dan Fulan B hanya kebingungan mendengar kasus besar yang mereka hadapi hanya dipandang mudah oleh si ‘alim.
“Hai Fulan A! Apakah kamu punya anak?”
“Satu dan laki-laki, kyai. Saat ini sedang menjadi ko-as di RS. dr. Sardjito. Tetapi Insya Allah tidak ada masalah dengan biaya, kyai…” jawab Fulan A. Si orang ‘Alim semakin lebar senyumnya. Pandangannya beralih ke Fulan B.
“Hai Fulan B! Anakmu berapa?”
“Anak saya dua, perempuan semua, kyai. Yang besar sudah semester akhir di Akbid Semarang. Yang kecil masih kelas I SMP. Sama dengan Fulan A, Insya Allah keluarga kami tidak bermasalah dengan biaya pendidikan mereka, kyai” tegas Fulan B.
Si Orang ‘alim kali ini betul-betul tidak mampu menahan tawanya.
“Siapa yang bertanya tentang biaya sekolah anak kalian?”
“Maksud kyai? tanya Fulan A dan Fulan B bersamaan
“Maksud saya, mengapa kalian tidak berbesanan saja? Harta karun ini dapat dijadikan biaya pernikahan mereka, lalu mendirikan klinik untuk membantu orang yang sakit dan ibu-ibu yang akan melahirkan di desa kita ini. Bagaimana?”
Fulan A dan Fulan B saling berpandangan dan tersenyum. Segera mereka pamit dengan si orang alim sambil bersalaman takzim, pertanda terima kasih yang tak terhingga atas solusi dari sengketa mereka tentang kotak harta karun itu.
Nun…
Suatu sore, tampak dua bapak-bapak asyik memancing sambil berbincang-bincang di sebuah tambak ikan emas.
“Semoga cucu kita perempuan, ya. Kalau perempuan, nanti kan bisa jagain adik-adiknya, rambutnya dikepang dua, pakai pita, pasti lucu.”
“Kalau saya berharap cucu kita laki-laki. Bisa kita ajak mancing, sholat jumat, dan anak pertama itu menjadi tulang punggung keluarganya nanti.”
“Ah, itu kan pendapat lama. Sekarang sudah berubah…”
“Tapi tetap berlaku lho…!”
Ah, perdebatan yang hanya menakuti-nakuti ikan yang mendekati kail mereka. Lama dan panjang perdebatan tentang jenis kelamin cucunya yang bakal lahir hingga datang kepada mereka seorang laki-laki.
“Pak, Alhamdulillah. Cucu-cucunya telah lahir. Bapak-bapak disuruh pulang!”
“Laki-laki atau perempuan?” tanya mereka serentak.
“Kembar sejoli, pak. Laki-laki dan perempuan…!”
“Alhamdulillah….!” Teriak mereka. Kedua bapak-bapak itu tidak perduli mukanya basah dan kotor oleh sujud syukurnya di pematang tambak itu.
Mereka meninggalkan tambak dengan suka cita walau tanpa membawa seekor pun hasil pancingan. Sementara itu sore berlalu di sela-sela pepohonan kelapa bersama dengan alunan suara adzan dari sebuah mushola tua di desa itu.
(Enrich by Ism.)
Add comment 26 August 2009
Berbagi dari yang Terdekat
Kadang benar peribahasa “Kuman di seberang lautan tampak, namun gajah di pelupuk mata tidak tampak” dapat terjadi pada diri kita. Seperti pada kisah berikut yang terjadi saat bangsa ini dilanda krisis.
Tersebutlah seorang pedagang yang sholeh, di mana tokonya selalu mengalir rezeki yang melimpah di tengah krisis yang melanda negeri. Hal ini tidak membuat pedagang itu beserta keluarganya menjadi sombong. Rezeki yang melimpah mereka syukuri dengan tetap berderma terhadap kaum yang kurang mampu. Daerah-daerah kumuh dan miskin sering menjadi sasaran keluarga ini untuk berbagi walau pun menempuh jarak yang jauh.
Suatu sore hari, di bulan Ramadhan, istri pedagang telah menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarganya di lantai bawah. Setelah siap, mereka biasanya berjalan-jalan atau bersantai di pekarangannya sambil menunggu saat berbuka tiba. Dan saat adzan berkumandang, keluarga ini segera menuju meja makan. Namun semuanya terperanjat. Nasi dan lauk yang tadi dipersiapkan HILANG …!
Ditempat lain, seorang bapak dengan dua anaknya yang masih kecil telah mengitari meja usang menunggu sang ibu menyajikan hidangan untuk berbuka. Setelah sekian lama menunggu akhirnya sang ibu keluar dari dapur dengan satu tempat besar nasi dan lauk yang sangat lezat. Sang Bapak dan anak-anaknya terperanjat.
“Alhamdulillah, kita dapat rezeki ya Bu ?” tanya anaknya yang besar dan dijawab dengan senyum getir ibunya.
“Ayo kita makan saja, ya?”
“Ibu dapat rezeki dari mana?” tanya anaknya yang bungsu.
Sepontan ibunya berhenti menghidangkan makanan itu dan memandang suaminya. Suaminya hanya mengangguk. Segera sang ibu mengemas kembali makanan yang hendak dihidangkan dan menuju keluar rumah setengah berlari di bawah tatapan tak mengerti anaknya.
Di rumah pedagang, kebingunan atas hilangnya nasi dan lauknya dipecahkan oleh sebuah salam.
“Assalamu alaikum…”
“Wa alaikum salam…”, jawab istri pedagang sambil menuju pintu dan membukanya. Di hadapannya seorang ibu lusuh berurai air mata.
“Bu, maafkan saya. Saya tadi mencuri nasi dan lauk di sini. Tetapi ini saya kembalikan lagi. Sekali lagi maafkan saya, ya Bu…” terbata-bata ibu tadi menyampaikan maksudnya. Sementara istri pedagang masih dalam kebingungan. Melihat sikap ini, ibu lusuh menambahkan penjelasannya dengan sesekali menghapus air matanya.
“Keluarga kami sudah tiga hari ini berbuka dengan singkong rebus. Entah setan mana yang menggoda saya untuk menyenangkan hati mereka dengan nasi dan lauk yang enak saat berbuka walau mencuri dari rumah ini. Namun Alhamdulillah, Allah menegur saya melalui anak bungsu saya. Mohon maafkan saya dan permisi. Assalamu alaikum…” sambil meletakkan nasi dan lauk itu di meja teras.
Setelah tersadar dari kebingungan, istri pedagang memanggil kembali ibu tadi yang sudah hampir sampai pagar.
“Ibu tinggal di mana?” tanya istri pedagang sambil berjalan mendekatinya.
“Saya tinggal dibelakang rumah ibu, di sebelah pagar itu…”
Tiba-tiba istri pedagang itu merangkul ibu tadi dan menangis. Ia merasa bersalah sekali, betapa orang yang tepat di belakang rumahnya, yang mungkin setiap hari terganggu dengan aliran air limbah dari rumahnya, yang setiap hari tidak bisa terkena sinar matahari karena terhalang rumah tingkatnya, menderita kelaparan hingga hanya untuk sebakul nasi mereka harus mencuri. Kemana hati ini yang tidak peduli terhadap penderitaan yang begitu dekat dengannya. Dan hatinya makin teiris-iris saat ingat hadist Rasulullah, ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah memuliakan tetangganya’. Ah …
Sejak malam itulah keluarga miskin ini dapat berbuka dengan nasi. Sang bapak yang sudah berbulan-bulan tidak mendapat pekerjaan setelah peristiwa PHK di tempatnya kerjanya, sekarang menjadi sopir kepercayaan sang pedagang. Dan sang ibu setiap pagi tampak sibuk di rumah sang pedagang untuk membantu istrinya masak, mencuci, dan beres-beres rumah.
Ah, sesungguhnya berbagi itu indah, ya…
Selamat berpuasa…
(Enrich by Ism.)
Add comment 25 August 2009